“ AKSI SWEEPING, ADALAH TUNTUTAN UNTUK MENJAGA
STABILITAS DAN KONDUSIFITAS MADURA”
Surabaya-
Pelaksanaan Pemilihan Gubernur Jawa Timur sebagai pesta demokrasi bagi
masyarakat Jawa Timur dan merupakan yang pertama dilaksanakan. ±30 Juta
masyaarakat terdaftar sebagai pemilih dan merupakan PILKADA dengan
jumlah pemilih terbanyak di Indonesia.
Propinsi
Jawa Timur sebagai barometer dalam berbagai persoalan bangsa, ternyata
memang tidak terbantahkan. Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan
PILKADA Pemilihan Gubernur Jawa Timur yang dilaksanakan 23 Juli 2008
dengan 5 Pasangan Cagub/Cawagub. Karena tidak ada yang mendapatkan 30%
suara maka digelarlah putaran ke dua (4 November 2008) dengan
memenangkan KARSA, akan tetapi digugat oleh KAJI ke MK dan diputuskan
untuk melaksanakan PILKADA ULANG di BANGKALAN-SAMPANG, PENGHITUNGAN
ULANG di PAMEKASAN.
Gubernur
LIRA Jawa Timur Ir.Bagus Haryosuseno didampingi Sekda Irham yang juga
putra Madura, dalam acara konsolidasi DPW dan DPD LIRA se-Madura
menegaskan bahwa dengan adanya keputusan MK tersebut maka MADURA
(Bangkalan&Sampang) akan menjadi penentu dalam PILGUB Jatim. Hal
itu tentunya akan menjadi sorotan bagi seluruh rakyat Indonesia bahkan
Dunia. Karena baru kali ini di negeri kita ini diadakan Pilgub putaran
ke-3 (walau hal itu masih menyisakan perdebatan) tandasnya.
Berikut
kami sampaikan beberapa kondisi obyektif Madura pasca keputusan MK
tentang sengketa Pilkada Jatim, hingga diperlukan aksi SWEEPING
terhadap orang luar yang masuk ke-Madura.
1. Bahwa masyarakat Madura khususnya di Sampang dan Bangkalan saat ini terpolarisasi pada proses dukung-mendukung cagub/cawagub.
2. Bahwa ada mobilisasi massa secara massif untuk melakukan aksi besar-besaran menolak dan mendukung keputusan MK (Pilgub Ulang).
3. Bahwa seluruh perhatian masyarakat Jawa Timur, Indonesia bahkan Dunia tertuju pada MADURA khususnya Bangkalan dan Sampang.
4. Bahwa
Tim sukses cagub/cawagub saat ini cenderung menjadi “provokator” dengan
komentar-komentar yang cenderung menghasut dan memanas-manasi
konstituen/,asyarakat madura.
5. Bahwa
masuknya orang-orang diluar dan atau bukan keturunan Madura akan
menimbulkan ketersinggungan Masyarakat Madura, karena mereka tidak
mengetahui dan memahami karakteristik Madura yang terkenal “KERAS tapi
SANTUN”.
6. Bahwa
Kondisi stabilitas dan kondusifitas Madura yang hari ini masih terjaga
jangan sampai ternodai hanya oleh kepentingan-kepentingan sesaat dan
akan merugikan masyarakat MADURA selamanya.
Untuk
itu maka kami DPW LIRA Jatim sebagai bagian dari masyarakat yang tak
terpisahkan, akan melakukan gerakan moral untuk mengkampanyekan “MARI
BERSAMA MENJAGA SITUASI KAMTIBMAS YANG KONDUSIF DAN STABILITAS SOSIAL
POLITIK DI JATIM KHUSUSNYA BANGKALAN DAN SAMPANG MADURA MELALUI GERAKAN
3 M (MENCOBLOS, MENGAWASI DAN MEMANTAU) PILGUB ULANG DI MADURA”.
Aksi
tersebut bertujuan untuk melindungi harkat dan martabat orang Madura,
yang saat ini dipertaruhkan. Apabila Pilgub ulang tersebut gagal. Maka
nama baik Madura akan kembali tercoreng.
(Ir/Sby, 22/12/08)